Tegnologi Dan Kurikulum

Abad dua bpuluh di tandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan teknologi mempengaruhi setiap bidang dan aspek kehidupan, termasuk bidang pendidkan. Sejak dahulu teknologi telah di terapkan dalam pendidikan, tetapi yang digunakan adalah teknologi sederhana seperti penggunaan papan tulis dan kapur, pena dan tinta, sabak dan grip, dan lain-lain. Dewasa ini sesuai dengan tahap perkembangannya yang di gunakan teknologi maju, seperti audio dan video cassette, overhead projector, film slide, dan motion film, mesin pengajaran, computer, CD-rom dan internet.
Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, ini bidang pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan klasik, yaitu menekankan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetesi. Suatu kompentesi yang besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebih sempit/khusus dan akhirnya menjadi prilaku-prilaku yang dapat diamati dan diukur.
Penerapan tegnologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tools technology) sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi system (system technology).
Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknologis untuk menunjang efisiensi dan efektivitas pendidikan. Kurikulumnya berisi rencana-rencana penggunaan berbagai alat dan media, juga model-model pengajaran yang banyak melibatkan penggunaan alat. Contoh-contoh model pengajaran tersebut adalah: pengajaran dengan bantuan film dan video, pengajaran berprogram, mesin pengajaran, pengajaran modul. Pengajaran dengan bantuan computer, dan lain-lain.
Dalam arti teknologi system, teknologi pendidikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan system. Program pengajaran ini bisa semata-mata program system, bisa program system yang di tunjang dengan alat dan media, dan bisa juga program system yang dipadukan dengan alat dan media pengajaran.
Dalam bentuk pertama, pengajaran tidak membutuhkan alat dan media yang canggih, tetapi bahan ajar dan proses pembelajaran disusun secara system. Alat dan media digunakan sesuai dengan kondisi tetapi tidak terlalu di pentingkan. Pada bentuk kedua, pengajaran di susun secara system dan di tunjang dengan penggunaan alat dan media pembelajaran. Penggunaan alat dan media pembelajaran. Penggunaan alat dan media belum terintegritasi dengan program pembelajaran, bersifat “on-off” yaitu bila digunakan alat dan media akan lebih baik, tetapi bila tidak menggunakan alat pun pengajaran masih tetap berjalan. Pada bentuk ketiga program pengajaran telah disusun secara terpadu antara bahan dan kegiatan pembelajarandengan alat dan media. Bahan ajar telah disusun di kaset audio, video atau film, atau di programkan dalam computer. Pembelajaran tidak bisa berjalan tanpa melibatkan penggunaan alat-alat dan program tersebut.
1. Beberapa cirri kurikulum teknologi
Kurikulum yang dikembangkan dari konsep teknologi pendidikan, memiliki beberapa cirri khusus, yaitu:
a) Tujuan. Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk prilaku. Tujuan-tujuan yang bersifat umum yaitu kompetensi dirinci menjadi tujuan-tujuan khusus, yang disebut objektif atau tujuan instruksional. Objektif ini menggambarkan prilaku, perbuatanatau kecakapan-keterampilan yang dapat diamati atau diukur.
b) Metode. Metode yang merupakan kegiatan pembelajran sering dipandang sebagai proses mereaksi terhadap perangsang-perangsang yang diberikan dan apabila terjadi respons yang diharapkan mak respons tersebut diperkuat. Tujuan-tujan pengajaran telah ditentukan sebelumnya. Pengajaran bersifat individual, tiap siswa menghadapi srentetan tugas yang harus dikerjakannya, dan maju sesuai dengan kecepatanmasing-masing. Pada saat tertentu ada tugas-tugas yang harus di kerjakan secara kelompok. Setiap siswa harus menguasai secara tuntas tujuan-tujuan program pengajaran. Pelaksanaan pengajaran mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.
1. Penegasan tujuan. para siswa diberi penjelasan tentang pentingnya bahan yang harus dipelajari. Sebagai tanda menguasai bahan mereka harus menguasai secara tuntas tujuan-tujuan dari suatu program.
2. Pelaksanaan pembelajaran. Para siswa belajar secara individual melalui media buku-buku ataupun media elektronik. Dalam kegiatan belajarnya mereka dapat menguasai keterampilan-keteramp[ilan dasar ataupun prilaku-prilaku yang dinyatakan dalam tujuan program. Mereka belajar dengan cara memberikan respons secara cepat terhadap persoalan-persoalan yang diberikan.
3. Pengetahuan tentang hasil. Kemajuan siswa dapat segera diketahui oleh siswa sendiri, sebab dalam model kurikulum ini umpan balik.
selalu diberikan. Para siswa dapat segera mengetahui apa yang telah mereka kuasai dan apa yang masih harus dipelajari lebih serius.
c) c. organisasi bahan ajar bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin ilmu, tatapi telah diramu sedemikain rupa sehingga memdukung penguasaan sesuatu komkptensi bahan ajar atau kompetensi yang laus besar dirnci menjadi bagian bagian atau subkompetensi yang lebih kecdil yang menggambarka objektif urutan dariobjektif ini pada dasarnya menjadi inti organsiasi bahan
d) evaluasi kegatan evaluasi dilakukan pada setipa saat, apda akhir suatu pelajaran suatu unit atau punsemseter. Funsi evaluasi ini bermacam-macam sebagai umpan balik bagi siswa dalam penyempurnaan pengausan suatu satuan pelajaran (evaluasi formatif) umpan balik bagi siswa pada kahir suatu program atau semester evaluasi sumatif juga dapat menjadi umpan balik bagi guru dan pengembanga kurikulum untuk penyempurnaan kurikulum. Evaluasi yang mereka gunakan umumnya berbentuk tes objektif. Sesuai dengan landasan pemikrian merkea, bahwa model pengajarannya menekankan sifat ilmiah bentuk ini tes dipandang yang paling cocok.
Program pengajaran teknologis sangat menekankan efisiensi dan efektivitass. Program dikembangkan melalui beberapa kegiatan uji coba dengan sampel-sampel dari suatu po;ulasi yang sesuai direvisi beberapa kali sampai standar yang diharapkan dapat dicapai. Dengan model pengajaran ini tingkat penguasaan siswa dalam standar konversional jauh digunakan program-program yang lebih berstruktur seperti pengajaran berprogram, pengajaran modul atau pengajaran degnan bantuan video dan computer yang dilengkapi dengan system umpan balik dan bimbingan yang teratur dari dapat mempercepat dan meningkatkan penguasaan siswa.
Meskipun memiliki kelebihan-kelebihan kurikulum teknologis tidak terlepas dari beberapa keterbatasan atau kelemahan. Model ini terbatas kemampuannya untuk mengajarkan bahan ajar yang kompleks atau bahan-bahan ajar yang bersifat afektif. Berabapa percobaan menunjukkan kemmapuan siswa untuk menctransfer hasil belajar cukup rendah. Pengajaran teknologis sukar untuk dapat melayni bakat-bakat siswa belajar dengan metode-metode khusus. Metode mengajar mereka cenderung seragam. Keberhasilan belajar siswa juga sangat dipengaruhi oleh sikap mereka, bila sikapnya positif maka siswa akan berhasil, tetapi bila sikapnya negative, tingkat penguasaanya pun relative rendah. Masalah kebosanan juga berpengaruh terhadap proses belajar.
2. Pengembangan kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum model lama, menurut para ahli teknologi pendidikan, penyusunan kurikulum, penyusunan buku-buku serta perangkat kurikulum lainnya lebih bersifat seni dan didasarkan atas kepentingan politik dari pada landasan-landasan ilmiah dan teknologis. Pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian nilai-nilai umum, konsep-konsep, masalah dan keterampilan yang akan menjadi isi kurikulum disusun dengan focus pada nilai-nilai tadi.
Pengembangan kurikulum teknologis berpegang pada beberapa criteria, yaitu : 1) prosedur oleh pengembangan kurikulum yang lain. 2) hasil pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba, dan hendaknya memberikan hasil yang sama.
Inti dari pengembangan kurikulum teknologis adalah penekanan pada kompetensi. Pengembangan dan penggunaan alat dan media pengajaran bukan hanya sebagai alat Bantu tetapi bersatu dengan program pengajaran dan ditujukan pada penguasaan kompetensi tertentu.
Pengembangan kurikulum ini membutuhkan membutuhkan kerja sama dengan para penyusun program dan penerbit media elektronik dan media cetak. Di pihak lain harus dicegah jangan sampai perkembangan kurikulum ini menjadi objek bisnis. Pengembangan pengajaran yang betul-betul berstruktur dan bersatu dengan alat media dan media membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Inilah hambatan utama pengembangan kurikulum ini, terutama bagi sekolah atau daerah-daerah yang kemampuan finansialnya masih rendah.
Pemecahan masih dapat dilakukan dengan menerapkan model kurikulum teknologis yang lebih menekankan pada teknologi system dan kurang menekankan pada teknologi alat. Dengan pendidikan ini biaya dapat lebih ditekan, disamping memberi kesempatan kepada pelaksana pengajaran, terutama guru-guru untuk mengembangkan sendiri program pengajarannya. Model ini di Indonesia dikenal dengan nama satuan pelajaran dalam lingkungan pendidikan dasar dan menengah atau satuan acara perkuliahan pada perguruan tinggi, sebagai bagian dari system instruksional atau desain instruksioanl.
Pengembangan kurikulum teknologis terutama yang menekankan teknologi alat, perlu mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, formulasi perlu dirumuskan ter,ebih dahulu apakah pengembangan alat atau media tersebut benar-benar diperlukan. Hal ini menyangkut perasaan. Kedua spesifikasi, diperlukan adanya spesifikasi dari alat atau media yang akan dikembangkan, baik dilihat dari segi kegunaannya maupun ketepatan penggunaannya.
Spesifikasi juga meliputi spesifikasi situasi lingkungan tempat belajar, standar perilaku belajar, serta keterampilan-keterampilan untuk mencapai Tujuan. Ketiga portotipe sukuens-sekuens pengajaran perlu diujicobakan dalam bentuk prototype-prototipe demikian juga format-format media, dan organisasi. Keempat percobaan pertama , unit-unit pengajaran diujicobakan pada sejumlah sample siswa untuk mengetahui keberhasailan dan kelemahannya. Data tentang kebiakan dan kekurangan sangat diperlukan bagi penyempurnaan. Kelima mencoba hasil, hasil dari pengembangan dicoba diterapkan didalam system pengajaran yang berlaku. Proses pelaksanaan hasil dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dicatat sebagai umpan balik bagi penyempurnaan selanjutnya.
E Buku acuan
Brown, george Isaac (ed) (1975) the live classroom. New york : the Viking press
Buku ini menguraikan pendidikan dan pengajaran yang didasarkan atas teori gestalt, yang disebut confluent education. Dengan pendekatan ini mereka ingin memperbaiki pelaksanaan yang mereka sebut sebagai kelas education, sebab dalam pendakatan ini factor afektif mendapatkan tempat yang sama dengan factor kognitif. Dalam buku ini para penulis tidak hanya menguraikan segi-segi teoretis, tatapi juga dilengkapi dengan ilustrasi dalam praktek dengan confluent education bukan saja kelas menjadi lebih hidup, tetapi perkembangan yang menyeluruh dari pribadi anak dapat tercapai sehingga perkembanganya lebih optimal. Buku ini sangat faidahnya bagi para pendidik, ahli kurikulum dan pengajaran serta meliputi, dasar teori gestalt, konsep-konsep confluent education contoh-contoh rencana sert pelaksanaan pelajarinya
Giclhrist, robber, s & Roberts Bernice B. (1974) curriculum development : A Humanized system approach. Belmont California : a Phi dela kappa book
Apa yang dikupas dalam buku ini merupakan rasksi dan sekaligus ingin memperbaiki system pendidikan yang ada system pendidikan yang ada umumnya kurang memperhatikan kebutuhan siswadan kurang melibatkan partisipasi guru dan siswa. System pendidikan kurikulum buku, alat pelajran dan lain-lain umumnya ditentukan oleh pihahk lain pemegang kebijakan pendidikan suatu komisi dan sebagainya tanpa melibatkan siswa dan guru. Pengajaran bersifat mekanis dan satu komponen terlepas dari komponen lainnya. Melihat kelemahann di atas para penulis melalui buku ini ingin memperbaiknya. Perbaikan tersebut bertolak dari pendekatan humanisme, suatu pandangan pendidikan yang menekankan kebutuhan perkembangan pribadi siswa seutuhnya. Segi afektif berjalan sejajar dengan segi kognitif dan prikomotor. Dalam buku ini secara sistematis dikemukakan hakikat manusia niali dan tujuan perkembangan manusia’ ; bagaimana mengorganisasi pendidikan sehingga tercipta kegiatan belajar yang efektif, bagaimana mempersiapkan dan melaksanakan pengajaran yang efektif dan humanistic. Buku ini sangat berguna bagi perencana dan pelaksana kurikulum dan pengajaran.

Metode Amsal

BAB I
Pendahuluan
A. Latar belakang
Tidakkah berlebihan jika ada ungkapan ”metode lebih penting dibandingkan materi” karena sebaik apapun tujuan pendidikan jiak tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik, sebuah metode akan mempengaruhi sampai dan tidaknya informasi secara lengkap atau tidak.
Oleh sebab itu pemilihan metode harus dilakukan secara cermat disesuaikan dengan berbagai factor terkait, bsehingga hasil pendidikan dapat memuaskan.
Hal ini telah diperaktekkan oleh Rasulullah SAW, disaat mengajar nnilai-nilai Islam terhadap sahabatnya, beliau sangat memperhatikan situasi dan kondisi para sahabatnya, sehingga para sahabatnya memahami dan mengaplikasikan nilai-nilaiIslam secara baik kaffah. Dengan adanya latar belakang di atas maka timbullah beberapa rumusan masalah sebagai berikut.
B. Rumusan Masalah
Untuk mempermudah pembahasan di dalam makalah ini, dirumuskan permasalahan yang akan menjadi sasarn pembahasan didalam makah ini, sebagamana berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan metode amtsal?
2. Ada berapakah amstal dalam Al-quran?
3. Apa tujuan amstal didalam Al-quran?
C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui maksud dari metode amstal
2. Mengetahui macam-macam dari metode amstal dalam Al-quran
3. Mengetahui tujuan amstal didalam Al-quran

BAB II
Pembahasan
A. Maksud Metode Amstal
Metode amstal diambil dari dua kata, yaitu Metode yang berarti “Jalan” atau “Cara” dam amstal yang berarti “Perumpamaan” atau “Contoh” , jadi metode amstal adalah cara mengajar yang mana guru menyampaikan sesuatu dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk mengkongkritkan sesuatu makna yang abstrak.
Metode ini sering digunakan guru untuk menyampaikan materi pembelajarannya supaya peserta didiknya mengetahui dan memahami materi pembelajaran dengan baik dan metode ini sering dilakukan oleh Rasulullah SAW, kepada sahabat-sahabatnya. Dalam sebuah hadits disebutkan :
عن ابن عمر رضي الله عنه قال .قال رسول الله صلى الله عليه وسلم. ضل اعنا فق كضل الشاة العاسرة تعير بين تعير الى هذه مرة والى هذه مرة
Artinya : tersesatnya orang munafik itu bagaikan kambing yang bungung diantara kambing-kambing yang lain ia bolak balik kesana kemari.
Haditst diatas tergolong syarif marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagai tergolong siqoh dan siqoh stubut. Dan siqoh hafidz, sedangkan Ibn Umar adalah sahabat Rasulullah SAW, menurut At-tibby (1417 H X.I 2634) orang-orang munafik karena mengikuti hawa nafsu untuk memenuhi sahwatnya diumpamakan seperti kambing. Tidak tetap pada satu betina tetapi terbolak bali pada keduanya. Hal tersebut diumpamakan seperi orang munafik yang tiadak konsisten terhadap komitmen perumpamaan tersebut dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sebagai satu metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga meteri pelajaran dapat dicerna dengan baik.
B. Mcamimacam Amstal dalam Al-quran
Berikut ini adalah macam-macam Amtsal didalam Al-quran
1. Amstal musarrahah
Amstal yang jelas yakni yang jelaskan menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata yang menunjukkan penyerupaan contoh surat An-nahl ayat 75-76
     •       •       •            
                               
2. Amstal kaminah
Amstal kaminah yaitu amstal yang tidak menyebutkandengan jelas kata-kata yang menunjukkan perumpamaan, tetapi kalimat itu mengandung pengertian yang mempesona dengan pengertian yang mempesona sebagaimana terkandung dalam ungkapan-ungkapann singkat seperti didalam Al-quran aurat Al-baqarah ayat 68
            •             
3. Amstal Mursalah
Amstal mursalah yaitu kalimat-kalimat Al-quran yang disebut secara lepas tampa dijelaskan redaksi penyerupaan, tetapi dapat digunakan untuk penyerupaan seperti didalam Al-quran surat Yusuf ayat 51
    •      •                     
Amstal didalam Al-quran yaitu:
a. Menampilkan suatu yang abstrak (yang hanya ada dalam pikiran) kedalam suatu yang kongkrit/material yang dapat dibaca oleh indra.
b. Menyingkap makna sebenarnya dan mempoerlihatkan hal yang ghaib melalui pemaparan yang nyata.
c. Menghimpun arti yang indah dalam ungkapan yang singkat sebgaimana yang terlihat dalam Amstal kaminah dan Amstal Mursalah.

DAFTAR PUSTAKA
• Anwar, Rosihan. 2000. Ilmu Tafsir. Bandung, Pustaka Sastra.
• Izzan Tekstual dan KontekstualAl-quran . Bandung. Tarakkar

cara menutut ilmu

Sungguh telah dipahami bersama , bahwa menuntut ilmu agama adalah fardhu € ¦’±ain (kewajiban bagi setiap pribadi) bagi tiap muslimin. Maka saat ini dampak dari kesadaran yang tinngi terhadap kewajiban tersebut ada disetiap lapisan masyarakat.

Hal ini patut kita dambakan dan kita syukuri kepada Allah . Ini terlihat di berbagai instansi , di setiap daerah terdapat dan tumbuh subur majelis-majelis taklim yang dipenuhi oleh generasi muda, orangtua maupun remaja.

Namun , sungguh tidak sedikit yang kita dapati dari hasil menuntut ilmu, praktik-praktik keseharian yang bertentangan dengan ilmu yang didapatnya. Ilmu yang mereka dapatkan kemarin, hari ini sudah lupa. Hari ini mendapat kajian ilmu, beberapa hari sudah tak ingat, tak berbekas lagi. Banyak pula yang mengaku ahlus sunnah justru menjadi penentang sunnah dan memperolok-olokkannya.

Sungguh yang demikian ini menunjukkan tidak berkahnya ilmu yang didapat lantaran ketidaktahuan tentang landasan ilmu syar€ ¦’²I dan kurangnya adab dalam menuntut ilmu itu sendiri.

Oleh karena itu, pokok dari setiap perkara yang diperintahkan untuk dipahami dan dihayati : bahwasannya ILMU ITU IBADAH . Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam majmu€ ¦’² fatawa-nya X hal 11-13,15 & XI hal 314 , mengatakan :€ ¦’²ILMU ADALAH IBADAH.

Berkata sebagian ulama bahwa : Ilmu adalah shalat yang tersembunyi dan merupakan ibadah hati.

Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid , dalam Hilyah Thalabil € ¦’±ilmi : 4:€ ¦’²

€ ¦’±Maka orang yang menuntut ilmu hendaknya mempunyai adab terhadap dirinya .€ ¦’²
Adapun adab yang harus diperhatikan, diantaranya :

1. Ikhlasun Niyyati lillahi ta€ ¦’²ala (Niat ikhlas hanya untuk Allah)

Sungguh Allah telah berfirman :
€ ¦’±Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah (beribadah) kepada Allah dengan mengikhlaskan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.€ ¦’²

Begitu ju8ga dalam hadits al Fardhi al Masyhur dari amirul mukminin , Umar bin Khaththab , bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

€ ¦’±’±Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya,€ ¦’¥’² HR Bukhari & Muslim

Maka sesungguhnnya dari keikhlasan niat ini dapat menyebabkan (keberkahan) ilmu dan pengalihan kedudukan keutamaan taat dari serendah-rendahnya penyimpangan. Tidak ada yang lebih menghancurkan ilmu seperti halnya riya€ ¦’². (lih. Tahdzibul Atsar 2 hal 121-122, At Thabari)

Contohnya , melalui ucapan :€ ¦’²Aku telah tahu dalam masalah ini € ¦’± dan € ¦’±aku telah hapal ini€ ¦’². Tujuannya agar didengar dan diakui oleh orang lain (sehingga dipuji).

Dengan dasar ini, maka bersungguh-sungguhlah dalam menghindar dari semua yang merusak niatmu dalam menuntut ilmu yang benar, meonjolkan diri diantara teman sebaya (seangkatan) , menjadikan ilmu tsb sebagai sarana untuk kebendaan , sesuatu yang tidak kekal seperti kedudukan , harta benda , kebesaran , atau biar dipuji , mencari perhatian manusia. Maka sungguh yang semisal itu jika merubah niat maika rusaklah niat itu dan hilanglah berkah ilmunya.

Maka tamassuk (berpegang teguh) lah kamu sekalian dengan al € ¦’±urwatul wutsqo (tali yang kuat) yang menjaga dari perusak niat, agar kamu menjadi sangat takut dari pembatal-pembatal keikhlasan , yakni dengan mencurahkan kesungguhan dalam keikhlasan yang disertai dengan rasa membutuhkan yang amat sangat dan pasrah kepada Allah.

Sungguh , ikhlas adalah kata yang mudah diucapkan , namun amat sukar dilaksanakan, sehingga Sufyan bin Said Ats Tsaury berkata :€ ¦’²Tisdak ada suatu yang lebih menyulitkanku dari pada niatku.€ ¦’² Maka hendaklah berusaha dan berdoa kepada aaLLAH Azza wa jalla.

2. Mahabatullahi wa Mahabbatu Rasulihi (Cinta kepada Allah dan RasulNya)

Realisasinya adalah dengan memurnikan ittiba€ ¦’² (mengikuti) atsar Rasulillah shalallahu alaihi wa sallam. Sungguh Allah ta€ ¦’²ala telah berfirman :

€ ¦’±Katakanlah (hai Muhammad) jika kamu mencintai Allahmaka ikutilah aku , niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. (Ali Imran :31)

Kedua bekal dan adab diatas hendaknya ditempatkan kedudukannya sebagai mahkota dalam diri seseorang.

Wahai orang yang menuntut ilmu , kamu adalah orang-orang yang duduk bersimpuh untuk belajar dan yang amat mulia yaitu thalabul ilmi. Maka , aku wasiatkan kepadaku dan kepada kamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi (sendirian) ataupun terang-terangan (dihadapan banyak orang) .Takwa ini merupakan kpersiapan , dan dari takwa ini terdapat keutamaan-keutamaan yang merupakan faktor pendorong kekuatan bagi tingginya
derajat. Takwa merupakan pengikat hati yang amat kuat dari fitnah-fitnah yang ada , maka janganlah kamu lalai .

3. Mulazamatu Khasya (Konsisten dalam takut kepada Allah)

Hiasilah senantiasa rasa takut kepadaNya baik dalam terang-terangan maupun dalam sembunyi. Tetaplah dalam penjagaan syariat Islam , menjanpakkan sunnah-sunnah serta menyebarkannya dengan cara mengamalkan dan mengajak orang lain untulk melaksanakannya. Bersaikaplah satria , hendaklah memudahkan dan tidak menyulitkan serta berpola laku yang shalih . Semua ini
bisa diraih dengan khasy-yatullah.

Imam Ahmad berkata :€ ¦’²Asas ilmu adalah takut kepada Allah (Khasy-yatullah)

Sebaik-baik mahluk yang melata di bumi ini adalah orang yang takut kepada Allah dan tidaklah seseorang takut kepada Allah kecuali orang yang alim (ulama). Namun ingatlah bahwa yang dimaksud alim adalah orang byang dengan ilmunya itu beramal , dan tidaklah orang itu beramal kecuali didasari dengan khasy-yatullah.

4. Dawamul Muraqabah (selalu merasa diawasi oleh Allah)

Hendaknya penutut ilmu selalu merasa diawasi oleh Allah dalam segala keadaan dan dimana saja berada dalam rangka berjalan menuju Allah dengan hati antara khauf (tajut) dan raja€ ¦’² (berharap) . Keduanya bagaikan sayap bagi seekor burung. Sehingga tidak bisa hilang salah satunya . Maka hadapkan dirimu kepada Allah keseluruhan. Penuhi hatimu dengan muraqabah , basahi bibirmu selalu dengan dzikir kepada-Nya dan selalu merasa senang dengan hukum-hukum Allah dan hikmah-hikmahNya.

5. Rendah hati dan Tidak sombong

Berbekalah dengan adab nafsi dengan selalu menjaga diri, santun, sabar, tawadhu€ ¦’² demi kebenaran , ketenangan , rendah hati. Dalam hal seperti ini engkau membawa beban belajar demi mulianya ilmu, dalam keadaan merendah diri demi kebenaran.Maka hati-hatilah dari berlaku sombiong . Sungguh telah sampai kepadamu kaum salaf yang begitu hati-hati dari prilaku sombong.

6. Jadilah mengikuti jejak salafus sholeh

Hendaknya kita menjadi salafi yang benar-benar, yaitu menelusuri jalannya orang-orang terdahulu dari kalangan shahabat Rasul shalallahu alaihi wa sallam, yang allah telah ridha kepada mereka , jalannya orang-orang generasi setelah shahabat yang selalu mengikuti jejak mereka dalam permasalahan agama, baik dalam masalah aqidah , ahlak , dan keseluruhan manhaj. Berpegang teguhlah dengan sunnah Rasul Shalallahu alaihi wa sallam, tinggalkanlah jidal (berdebat) tanpa ilmu , jauhi tebak-menebak tanpa ilmu , serta tinggalkan keasyikan pada ilmu kalam.

La Adri At Tilmidzi

Umar bin Abdul Aziz berkata :

“Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu (Salafus Shalih) itu berhenti di atas dasar ilmu dengan bashirah yang tajam (menembus) mereka, menahan (dirinya), dan mereka lebih mampu dalam membahas sesuatu jika mereka ingin membahasnya.” (Bayan Fadlli Ilmis Salaf 38)

tiori menunutul ilmu

Sungguh telah dipahami bersama , bahwa menuntut ilmu agama adalah fardhu € ¦’±ain (kewajiban bagi setiap pribadi) bagi tiap muslimin. Maka saat ini dampak dari kesadaran yang tinngi terhadap kewajiban tersebut ada disetiap lapisan masyarakat.

Hal ini patut kita dambakan dan kita syukuri kepada Allah . Ini terlihat di berbagai instansi , di setiap daerah terdapat dan tumbuh subur majelis-majelis taklim yang dipenuhi oleh generasi muda, orangtua maupun remaja.

Namun , sungguh tidak sedikit yang kita dapati dari hasil menuntut ilmu, praktik-praktik keseharian yang bertentangan dengan ilmu yang didapatnya. Ilmu yang mereka dapatkan kemarin, hari ini sudah lupa. Hari ini mendapat kajian ilmu, beberapa hari sudah tak ingat, tak berbekas lagi. Banyak pula yang mengaku ahlus sunnah justru menjadi penentang sunnah dan memperolok-olokkannya.

Sungguh yang demikian ini menunjukkan tidak berkahnya ilmu yang didapat lantaran ketidaktahuan tentang landasan ilmu syar€ ¦’²I dan kurangnya adab dalam menuntut ilmu itu sendiri.

Oleh karena itu, pokok dari setiap perkara yang diperintahkan untuk dipahami dan dihayati : bahwasannya ILMU ITU IBADAH . Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam majmu€ ¦’² fatawa-nya X hal 11-13,15 & XI hal 314 , mengatakan :€ ¦’²ILMU ADALAH IBADAH.

Berkata sebagian ulama bahwa : Ilmu adalah shalat yang tersembunyi dan merupakan ibadah hati.

Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid , dalam Hilyah Thalabil € ¦’±ilmi : 4:€ ¦’²

€ ¦’±Maka orang yang menuntut ilmu hendaknya mempunyai adab terhadap dirinya .€ ¦’²
Adapun adab yang harus diperhatikan, diantaranya :

1. Ikhlasun Niyyati lillahi ta€ ¦’²ala (Niat ikhlas hanya untuk Allah)

Sungguh Allah telah berfirman :
€ ¦’±Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah (beribadah) kepada Allah dengan mengikhlaskan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.€ ¦’²

Begitu ju8ga dalam hadits al Fardhi al Masyhur dari amirul mukminin , Umar bin Khaththab , bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

€ ¦’±’±Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya,€ ¦’¥’² HR Bukhari & Muslim

Maka sesungguhnnya dari keikhlasan niat ini dapat menyebabkan (keberkahan) ilmu dan pengalihan kedudukan keutamaan taat dari serendah-rendahnya penyimpangan. Tidak ada yang lebih menghancurkan ilmu seperti halnya riya€ ¦’². (lih. Tahdzibul Atsar 2 hal 121-122, At Thabari)

Contohnya , melalui ucapan :€ ¦’²Aku telah tahu dalam masalah ini € ¦’± dan € ¦’±aku telah hapal ini€ ¦’². Tujuannya agar didengar dan diakui oleh orang lain (sehingga dipuji).

Dengan dasar ini, maka bersungguh-sungguhlah dalam menghindar dari semua yang merusak niatmu dalam menuntut ilmu yang benar, meonjolkan diri diantara teman sebaya (seangkatan) , menjadikan ilmu tsb sebagai sarana untuk kebendaan , sesuatu yang tidak kekal seperti kedudukan , harta benda , kebesaran , atau biar dipuji , mencari perhatian manusia. Maka sungguh yang semisal itu jika merubah niat maika rusaklah niat itu dan hilanglah berkah ilmunya.

Maka tamassuk (berpegang teguh) lah kamu sekalian dengan al € ¦’±urwatul wutsqo (tali yang kuat) yang menjaga dari perusak niat, agar kamu menjadi sangat takut dari pembatal-pembatal keikhlasan , yakni dengan mencurahkan kesungguhan dalam keikhlasan yang disertai dengan rasa membutuhkan yang amat sangat dan pasrah kepada Allah.

Sungguh , ikhlas adalah kata yang mudah diucapkan , namun amat sukar dilaksanakan, sehingga Sufyan bin Said Ats Tsaury berkata :€ ¦’²Tisdak ada suatu yang lebih menyulitkanku dari pada niatku.€ ¦’² Maka hendaklah berusaha dan berdoa kepada aaLLAH Azza wa jalla.

2. Mahabatullahi wa Mahabbatu Rasulihi (Cinta kepada Allah dan RasulNya)

Realisasinya adalah dengan memurnikan ittiba€ ¦’² (mengikuti) atsar Rasulillah shalallahu alaihi wa sallam. Sungguh Allah ta€ ¦’²ala telah berfirman :

€ ¦’±Katakanlah (hai Muhammad) jika kamu mencintai Allahmaka ikutilah aku , niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. (Ali Imran :31)

Kedua bekal dan adab diatas hendaknya ditempatkan kedudukannya sebagai mahkota dalam diri seseorang.

Wahai orang yang menuntut ilmu , kamu adalah orang-orang yang duduk bersimpuh untuk belajar dan yang amat mulia yaitu thalabul ilmi. Maka , aku wasiatkan kepadaku dan kepada kamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi (sendirian) ataupun terang-terangan (dihadapan banyak orang) .Takwa ini merupakan kpersiapan , dan dari takwa ini terdapat keutamaan-keutamaan yang merupakan faktor pendorong kekuatan bagi tingginya
derajat. Takwa merupakan pengikat hati yang amat kuat dari fitnah-fitnah yang ada , maka janganlah kamu lalai .

3. Mulazamatu Khasya (Konsisten dalam takut kepada Allah)

Hiasilah senantiasa rasa takut kepadaNya baik dalam terang-terangan maupun dalam sembunyi. Tetaplah dalam penjagaan syariat Islam , menjanpakkan sunnah-sunnah serta menyebarkannya dengan cara mengamalkan dan mengajak orang lain untulk melaksanakannya. Bersaikaplah satria , hendaklah memudahkan dan tidak menyulitkan serta berpola laku yang shalih . Semua ini
bisa diraih dengan khasy-yatullah.

Imam Ahmad berkata :€ ¦’²Asas ilmu adalah takut kepada Allah (Khasy-yatullah)

Sebaik-baik mahluk yang melata di bumi ini adalah orang yang takut kepada Allah dan tidaklah seseorang takut kepada Allah kecuali orang yang alim (ulama). Namun ingatlah bahwa yang dimaksud alim adalah orang byang dengan ilmunya itu beramal , dan tidaklah orang itu beramal kecuali didasari dengan khasy-yatullah.

4. Dawamul Muraqabah (selalu merasa diawasi oleh Allah)

Hendaknya penutut ilmu selalu merasa diawasi oleh Allah dalam segala keadaan dan dimana saja berada dalam rangka berjalan menuju Allah dengan hati antara khauf (tajut) dan raja€ ¦’² (berharap) . Keduanya bagaikan sayap bagi seekor burung. Sehingga tidak bisa hilang salah satunya . Maka hadapkan dirimu kepada Allah keseluruhan. Penuhi hatimu dengan muraqabah , basahi bibirmu selalu dengan dzikir kepada-Nya dan selalu merasa senang dengan hukum-hukum Allah dan hikmah-hikmahNya.

5. Rendah hati dan Tidak sombong

Berbekalah dengan adab nafsi dengan selalu menjaga diri, santun, sabar, tawadhu€ ¦’² demi kebenaran , ketenangan , rendah hati. Dalam hal seperti ini engkau membawa beban belajar demi mulianya ilmu, dalam keadaan merendah diri demi kebenaran.Maka hati-hatilah dari berlaku sombiong . Sungguh telah sampai kepadamu kaum salaf yang begitu hati-hati dari prilaku sombong.

6. Jadilah mengikuti jejak salafus sholeh

Hendaknya kita menjadi salafi yang benar-benar, yaitu menelusuri jalannya orang-orang terdahulu dari kalangan shahabat Rasul shalallahu alaihi wa sallam, yang allah telah ridha kepada mereka , jalannya orang-orang generasi setelah shahabat yang selalu mengikuti jejak mereka dalam permasalahan agama, baik dalam masalah aqidah , ahlak , dan keseluruhan manhaj. Berpegang teguhlah dengan sunnah Rasul Shalallahu alaihi wa sallam, tinggalkanlah jidal (berdebat) tanpa ilmu , jauhi tebak-menebak tanpa ilmu , serta tinggalkan keasyikan pada ilmu kalam.

La Adri At Tilmidzi

Umar bin Abdul Aziz berkata :

“Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu (Salafus Shalih) itu berhenti di atas dasar ilmu dengan bashirah yang tajam (menembus) mereka, menahan (dirinya), dan mereka lebih mampu dalam membahas sesuatu jika mereka ingin membahasnya.” (Bayan Fadlli Ilmis Salaf 38)

tiori minat membaca

BAB II
LANDASAN TEORI
A. KAJIAN TENTANG MINAT BACA.
1. Pengertian Minat Baca
Menurut Syaiful Jamarah Minat baca adalah keinginan dan kemauan kuat untuk selalu membaca setiap kesempatan atau selalu mencari kesempatan untuk membaca. (Jamarah,2005: 24)
Hal senada juga dikemukakan syaiful Rijal dalam majalah Edukasi, No.03.
Menurut Gage dalam Syaiful rijal, minat baca dibagi menjadi dua, Yaitu minat baca spontan dan minat baca terpola. Minat baca spontan adalah minat baca yang tumbuh dari motivasi personil pembaca (siswa). Sedangkan minat baca terpola adalah minat baca yang berlangsung dalam kegiatan mengajar di sekolah.
Minat baca perlu ditanamkan dan dipupuk pada diri setiap manusia (siswa) baik oleh diri sendiri atau oleh orang lain, untuk dapat diharapkan prestasinya terus meningkat di masa yang akan datang. Guna meningkatkan minat baca ada banyak cara yang perlu dilakukan, termasuk diantaranya seperti yang dikemukakan Dr. Tarigan adalah:
Pertama, berusaha untuk selalu menyediakan waktu untuk membaca secara rutin. Haruslah kita sadari bahwa orang yang dapat membaca dengan baik adalah orang yang biasa berpikir dengan baik pula.
Kedua, biasakanlah untuk dapat memilih bacaan yang baik dan kita butuhkan. Masalah yang sering kita hadapi adalah kita dapat belum dapat memilih buku bacaan yang baik, juga karena terbentur oleh sempitnya waktu hingga kita tidak dapat membaca buku dalam jumlah yang banyak.oleh karena itu diperlukan keterampilan dalam memilih bahan bacaan. (Tarigan, 1987 : 108).
Peningkatan minat baca dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya :
a. Menyediakan bahan bacaan;
b. Pemilihan bahan yang baik;
c. Memiliki kesadaran dan minat yang tinggi terhadap membaca;
d. Penyediaan waktu untuk membaca.
sehingga bisa kita simpulkan bahwa cara yang paling efektif untuk meningkatkan minat baca adalah menciptakan kondisi cinta baca.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan minat pada umumnya dan minat baca pada khususnya menurut Abu Ahmadi (1992: 150-151) adalah sebagai berikut :
1. Pembawaan
Bila pembawaan minat siswa itu tinggi , maka siswa itu akan memiliki dorongan dan semangat tinggi dalam melaksanakan kegiatan membaca. Bigitu pula sebaliknya.
2. Latihan dan kebiasaan
Menumbuhkan latihan dan kebiasaan membaca dalam diri merupakan hal paling utama yang harus dilakukan para pembaca dan para pendidik.
3. Kebutuhan
Adanya kebutuhan tentang sesuatu memungkinkan timbulnya perhatian terhadap objek tersebut.
4. Kewajiban
Membaca adalah sebuah perintah dari langit. Pentingnya membaca dalam pandangan Islam tergambar dalam ayat yang pertama kali turun kepada Rosulullah.

5. Keadaan jasmani
Sehat jasmani juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi minat baca. Jika kondisi jasmani terganggu kesehatannya maka secara otomatis yang bersangkutan tidak dapat beraktifitas banyak dan minatpun akan berkurang.
6. Suasana jiwa
Jiwa adalah daya hidup rohaniyah yang bersefat abstrak yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan-perbuatan.
7. Suasana sekitar
Suasana sekitar yang kondusif secara absolute diakui sebagai stimulus dalam meningkatkan minat secara umum.
8. Kuat tidaknya rangsangan
Adanya rangsangan yang membangkitkan gairah dan memotivasi siswa menumbuhkkan semangat dan antusiasme sehingga akan berpengaruh pada peningkatan minat seseorang.

Sejalan dengan itu Rosyidi (1987:13) menjelaskan bahwa minat baca bukanlah suatu yang tumbuh secara otomatis, melainkan minat baca ditanam, ditumbuhkan serta dipupuk sejak usi dini. Dalam membangun minat baca diperlukan bantuan serta partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat mulai lingkungan sekolah (guru), lingkungan masyarakat, pemerintah dan paling utama adalah dukungan keluarga.
Minat baca yang tinggi adalah suatu keadaan yang dapat memberikan harapan besar terhadap prestasi dan kesuksesan anak pada masa itu ataupun masa yang akan datang.

3. Ciri-ciri minat baca
Syaiful Rijal (Edukasi.N0.03.2005) mengemukakan bahwa seorang anak yang mempunyai minat baca tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
1. Senantiasa berkeinginan untuk membaca
“Buku itu Gudangnya ilmu, membaca adalah kuncinya”
Sejatinya membaca nyaris identik dengan ilmu pengetahuan, suatu aspek peradaban manusia yang utama mengantarkan manusia dapat mengembangkan kehidupannya.
Budaya membaca merupakan salah satu penentu utama yang membuat ilmu pengetahuan berkembang pesat dan mengantarkan manusia ke dalam kehidupan dinamis, serta berwawasan luas sehingga manusia gampang dalam menjalankan kehidupannya.
2. Mempunyai kebiasaan dan kontinuitas dalam membaca
Pada saat ini minat dan kegemaran membaca masyarakat kita masih tumbuh pada lapisan tertentu, yaitu kalangan akademisi, tokoh masyarakat dan yang karena kedudukan dan tugasnya dituntut untuk membaca. Bagai sebagian besar masyarakat termasuk peserta didik, kegiatan membaca belum merupakan kebiasaan bahkan mereka masih menganggap bahwa tanpa membaca sekalipun seseorang dapat mencapai sesuatu yang diinginkan. Untuk tu harus ada upaya yang sungguh-sungguh dan konsisten dalam membudayakan gemar membaca.
3. Memanfaatkan setiap peluang waktu dengan membaca
Kesempatan dan peluang untuk membaca banyak dimiliki oleh setiap orang, namun sedikit yang dapat memanfaatkan setiap peluang tersebut untuk membaca. Membaca adalah satu hal yang kurang diminati oleh masyarakat umum bahkan cendrung ditakuti karena dianggap membosankan dan menjemukan. Hanya kalangan tertentu yang mempunyai minat baca yang tinggi sajalah yang akan menggunakan setiap peluang waktu untuk membaca.
4. Faktor yang mempengaruhi membaca
Membaca untuk sebagian orang memang hal yang sangat berat, namun membaca untuk sebagian siswa sebaliknya, seorang yang terasa enggan atau berat dalam membaca mungkin orang ntersebut tidak memilki tujuan yang lebih luas dari suatu informasi yang diterimanya.
Dalam membaca secara langsung ataupun tidak langsung memang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari dalam diri pembaca maupun dari faktor luar pembaca. (Saputra, 2004: 1)
1. Faktor Internal atau dalam diri pembaca terlihat bahwa orang itu adalah :
a. Tidak memiliki minat baca yang tinggi sehingga mereka dapat mencari informasi dari media lain, selain mereka dituntut membaca yaitu radio atau televisi
b. Adanya anggapan bahwa membaca itu sulit karena banyak kata-kata yang mungkin tidak dapat terekam dengan cepat dan mudah.
c. Kurangnya pengetahuan tentang membaca sehingga mereka cepat bosan, tidak sabar, dan malas untuk membaca.
d. Kebiasaan sejak kecil yang salah

2. Faktor eksternal atau luar dri pembaca, kita tidak pernah atau cenderung malas membaca itu karena adanya beberapa hal, antara lain :
a. Kurangnya buku atau bahan bacaan yang menarik dan bermutu.
b. Pendidikan yang diterapkan oleh guru atau orang tua tidak memberikan contoh dan tidak dianjurkan membaca.
c. Situasi, kondisi, keluarga, dan masyarakat yang tidak mendukung.
Dr. Raghib As-Sirjani dan Amin al-Madari memberikan penjelasan tentang factor yang mempengaruhi membaca anak didik adalah sebagai berikut :
9. Apa tujuan anda membaca ?
Secara mutlak cara ini ialah cara yang paling penting, yakni menghadirkannya. Dalam hal ini untuk melakukan proses membaca selalu terpatri dalam dirinya, karena Allah SWT dengan kalimat perintah langsung “ Bacalah … “ karena itu saya membaca dalam rangka taat kepada Allah juga agar berguna bagi dunia dan akhirat serta berguna bagi umat.
10. Menyusun perencaan dalam membaca
Membaca perlu emlihat fasilitas yang ada, tentunya disesuaikan dengan emampuan kita, yakni berupa waktu yang tepat, buku yang sesuai, dan kapasitas untuk menguasainya.
11. Mengatur waktu
“Tiada waktu tanpa Membaca”
Adigium ini memang telah melekat pada diri orang-orang yang menagungkan membaca sebagai konsep hidup, namun dalam realitanya disadari memang di balik itu ada waktu tertentu yang kita tidak dianjurkan melakukan proses membaca yang bilamana dipaksankan akan berakibat fatal, yaitu muncul sifat malas dan bosan membaca. Oleh karena itu kita dianjurkan selektif dalam mencari waktu dan selalu membawa buku dengan tujuan membaca.
12. Mulailah setahap demi setahap
Membaca berarti mengambil atau memahami arti dari bahan cetakan dan tulisan, karena itulah membaca memang memerlukan keterampilan tertentu bagi pembaca agar ia dapat memahami makna bacaan tertentu
13. Teratus dalam mengikat makna.
Tengsoe (1985:102) baca bukan sekedar melafalkan huruf-huruf akan tetapi lebih pada kegiatan jiwa untuk mengolah apa yang kit abaca. Mengolah dalam artian kita tidak harus menyerap begitu saja isi bacaan, yakni dengan system pencatatan yang tertata rapi, selalu mencatat keteraturan dan perhatian sangat dibutuhkan dalam segala aspek.
5. Tujuan membaca
Sadar ataupun tidak sadar kita membaca mempunyai tujuan yang khusus, yang tidak sama dengan tujuan membaca orang lain. Tentunya ada banyak macam tujuan dari kegiatan membaca sebagaimana dijelaskan Nuryatim Hadi Saputra (2004: 3). Adapun tujuan-tujuan membaca tersebut adalah sebagai berikut:
1. membaca untuk menemukan fakta-fakta
2. membaca untuk memperoleh ide-ide utama
3. membaca untuk mengetahui urutan sesuatu
4. membaca untuk menyimpulkan
5. membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasi
6. membaca untuk menilai atau mengevaluasi
7. membaca untuk membandingkan dan mempertentangkan
6. Ragam membaca
Ada berbagai cara dalam membaca yang dimaksudkan untuk memilih mana yang lebih efektif sesuai dengan kondisi pembaca dan kebutuhan. Menurut Nuryatim Hadi Saputra (2004: 32) ragam atau macam-macam dari cara membaca adalah sebagai berikut:
1. SQ3R
SQ3R adalah Survei, Quition, Read, Recile/recall, dan Review.
Survei atau disebut dengan pembaca.
Quition atau menyusun pertanyaan.
Read atau membaca sebagai langkah ketiga.
Recile atau recall sebagai fase pemberhentian sejenak atau beberapa lama sesuai kebutuhan.
Review sebagai fase pengulangan dan penelusuran kembali.
2. Skimming
Membaca secepat kilat, artinya menjelajahi keseluruhan isi buku dengan cepat
3. scanning
scanning adalah teknik membaca untuk mendapatkan informasi tanpa membaca yang lain atau langsung ke masalah yang dicari yaitu fakta dan informasi.
4. warp speed
warp speed adalah membaca dengan kecepatan tinggi.
7. Tehnik Dalam Membaca
1. Memilih bahan bacaan yang baik
Tentukan pilihan bahan bacaan yang baik disesuaikan dengan kebutuhan atau relevansi denga tujuan belajar yang bertujuan untuk menemukan fakta-fakta atau memperoleh ide-ide serta dapat mengklasifikasikan dan memperoleh pengetahuan yang optimal, karena menurut Jarwoto (2005:13)bahan-bahan bacaan memberikan keterampilan tersendiri pada pembaca
2. Memiliki frekuensi dan waktu dalam membaca
Frekuensi dan waktu dalam membaca merupakan bagian dari tehnik membaca, karena tempat dan suasana sekitar yang kondusif secara absolut menjadi stimulus terhadap kepuasan dalam membaca
Sejalan dengan itu (Rusyana,2005:04) berpendapat bahwa “ buku-buku atau bahan bacaan yang menunjang pada pendidikan di segala bidang dengan informasi yang lebih luas dan mendalam karena adanya waktu dan tempat yang menjanjikan untuk selalu membaca”

3. Kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya membaca.
Hal tersebut akan mendorong siswa untuk melakukan kegiatan membaca dan rela meluangkan waktunya untuk membaca, karena adanya usaha-usaha pembaca tersebut menunjukkan adanya kesadaran bahwa membaca itu penting.
4. Metode dalam membaca
Berikut kami haturkan beberapa tujuan membaca beserta bahan bacaan dan tehniknya (Saputra,2004:6)
No Tujuan Membaca Yang Harus dibaca Tehnik membaca
1 Membaca untuk menemukan fakta-fakta o Koran, buku, majalah
o Baca judul
o Baca bab yang menunjukkan fakta
o Baca kesimpulan
o Lihat gambar, table atau diagram
Bacalah dengan teliti alur permasalahannya.
Pahami setiap paragrap ide pokoknya dan contoh kongkrit yang disajikan oleh bacaan.
Garisbawahi kalau perlu dan catat yang penting.
2 Membaca untuk memperoleh ide-ide pokok utama atau ide pokok dalam bacaan Buku yang diperlukan :
o Lihat daftar isi
o Pendahuluan
o Bab-bab kunci
o Kesimpulan Perhatikan kata-kata kunci dan abaikan hal-hal yang tidak perlu.
Skimlah _aragraph demi paragraph.
3 Membaca untuk mengetahui urutan sesuatu. Buku yang diperlukan :
o Baca daftar isi
o Baca bab-bab yang jadi sasaran baca.
Baca kesimpulan Baca secara cepat dengan informasi yang disajikan.
Usahakan masalah yang kecil ditemukan untuk menemukan masalah yang besar secara berurutan.
4
Membaca untuk menyimpulkan Buku yang diperlukan:
o Baca simpulan di akfir buku dari suatu judul buku. Bacalah dengan teliti simpulan dari judul suatu buku. Temukan informasi penting di dalamnya.
5 Membaca untuk mengelompokkan atau klasifikasi. Buku, Koran, dan majalah :
o Daftar isi
o Baca yang menjadi sasaran bacaan Bacalah dengan cermat mana yang dianggap kelompok anggota dan kelompok X.
Kelompok anggota andai dengan anggota dan kelompok X tandai dengan X
Membaca untuk menilai atau evaluasi Buku, Koran, dan majalah :
o Daftar isi
o Bab yang menjadi sasaran bacaan
o Simpulan buku
o Daftar pustaka Bacalah dengan pelan dan teliti, temukan hal-hal penting dan cocokkan dengan masalah yang dihadapi
7 Membaca untuk membandingkan atau mempertentangkan Buku yang diperlukan:
o Daftar isi
o Baca yang menjadi sasaran bacaan
o Simpulan
o Table, grafik dan gambar
o Daftar pustaka Bacalah dengan cepat bab yang menjadi sasaran yang dibaca, tentukan masalah kemudian bandingkan dengan informasi

B. Kajian Tentang Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi belajar
Prestasi belajar adalah hasil maksimum yang diperoleh dari seseorang yang melakukan proses belajar. Prestasi belajar merupakan hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Ini berarti prestasi belajar tidak akan bisa diketahui tanpa dilakukan penilaian atas hasil aktivitas belajar siswa. Fungsi mengetahui prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauh mana kemajuan siswa setelah menyelesaikan suatu aktvitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk memotivasi setiap siswa agar lebih giat belajar, baik secara individu maupun kelompok. Dalam bahasan ini akan dibicarakan mengenai prestasi belajar sebagai hasil penilaian.
Keberhasilan proses pembelajaran dapat dilihat dari prestasi belajar yang dicapai oleh siswa. Kriteria keberhasilan guru dan siswa dalam melaksanakan program pembelajaran dilihat dari kompetensi dasar yang dimiliki oleh siswa. Informasi ini diperoleh melaui kegiatan evaluasi. Evaluasi pada prinsipnya bertujuan ntuk meningkatkan kinerja dan tujuan, ini bisa dicapai jika ada tindak lanjut dari kegiatan evaluasi. Evaluasi akan memberikan informasi tingkat pencapaian belajr siswa, dan jika dianalissi lebih rinci akan diperoleh nformasi tentang kesulitan belajar siswa, yaitu konsep-konsep yang belum dikuasai oleh sebagaian besar siswa. Informasi inilah yang harus digunakan guru untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Penilaian yang diselenggarakan oleh guru mempunyai banyak kegunaan, baik bagi siswa, sekolah, ataupun bagi guru sendiri. Bagi siswa hasil tes yang diselenggarakan oleh guru mempunyai banyak kegunaan, antara lain:
– Mengetahui apakah ia sudah menguasai materi pembelajaran yang disajikan oleh guru;
– Mengetahui bagian mana yang belum dikuasainya, sehingga ia berusaha untuk mempelajarinya lagi sebagai usaha dari perbaikan;
– Penguatan bagi siswa yang telah mempunyai skor tinggi dan menjadi motivasi untuk belajar lebih baik;
– Mendiagnosa kondisi siswa (Sumiati dan Asra,2008:200),

Informasi keberhasilan belajat siswa dalam aspek kognitif dan psikomotorik diperoleh melalui penilaian, sedangkan aspek afektif diperoleh melalui angket dan penagamatan kelas.(Sumiati,Asra, 2008: 200)
Penilaian mencakup semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja individu. Penilaian berfokus pada individu, yaitu prestasi belajar yang dicapai oleh individu. Proses penilaian meliputi pengumpulan bukti-bukti tentang pencapaian belajar peserta didik. Bukti ini tidak selalu diperoleh dari hasil tes saja, tetapi juga bias dikumpulkan melalui pengamatan atau laporan diri. Penilaian memerlukan data yang baik mutunya sehingga perlu didukung oleh proses pengukuran yang baik.(Arrasyid, Mansur, 2008: 8)
Bagi lembaga pendidikan yang mengetahui, bahwa prestasi belajar binaannya ternyata masih rendah menurut standar penilaian dunia pendidikan, maka lembaga tersebut dapat memperbaiki strategi evaluasinya, yang kemungkinan belum menyentuh metri pelajaran yang telah diberikan. Atau perlu meninjau kembali strategi proses interkasi belajar mengajarnya guna untuk memperoleh proses interaksi belajar mengajar yang kondusif dimasa mendatang. Hal ini sudah barang tentu akan melibatkan guru dalam menanganinya, sebab dalam penyampaian materi pelajaran dan pelaksanaan evaluasi, gurulah yang lebih banyak bergelut di dalamnya.
Sementara dalam pelaksanaannya, untuk menentukan tingkat keberhasilan dalam melakukan evaluasi digunakan acuan (Reference). Kita membedakan acuan itu dalam dua macam, yaitu :
– Acuan Norma atau Penilaian Acuan Norma (PAN) atau norm Reference Evaluation adalah penilaian yang menggunakn norma keberhasilan kelompok sebagai batu ukuran;
– Acuan Patokan atau Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Criteria reference Evaluation adalah penilaian yang menggunakn suatu Patokan (criteria) sebagai dasar penentuan tingkat keberhasilan dalam evaluasi. (Sumiati,Asra, 2008: 202)

2. Indikator prestasi belajar
Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologi yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible [tak dapat diraba]. Oleh karena itu, yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cupklikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa.
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai diatas adalah mengetahui garis-garis besar indikator [penunjuk adanya prestasi tertentu] dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur. (Syah, 2003;213)
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Setelah kepada siswa ditunjukkan suatu dorongan untuk belajar, entah oleh dia sendiri atau oleh guru, maka apa yang dilakukan oleh siswa untuk mencapai pelajaran itu dapat merupakan perbedaan antara belajar efisien dan penghamburan energi.
Sekadar mengalokasikan lebih banyak waktu adalah suatu cara yang tidak efisien untuk menambah prestasi belajar. Yang lebih penting adalah apa yang diperbuat oleh siswa dalam jangka waktu yang tersedia untuk meningkatkan prestasi belajar, perlu diadakan beberapa penilaian (judgements) mengenai :
1. Materi yang akan dipelajari
2. Prilaku dari siswa atau apa yang akan dilakukan oleh mereka untuk mencapai tujuan tersebut. (Anwar, 1986: 99)
4. Faktor-Faktor dalam belajar
Belajar adalah Key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada perndidikan. Sebagai suatu proses belajar selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan, karena demikian pentingnya arti belajar (Syah,2005:94)
Dengan demikian belajar bukanlah peristiwa yang dilakukan tanpa sadar, akan tetapi merupakan proses yang dirancang dan disengaja. Oleh karena itu belajar untuk mendapatkan suatu tujuan. Tujuan yang dirancang adalah tujuan yag disadari manfaat dan keguanaannya oleh setiap individu yang belajar. Oleh karena itu setiap individu yang belajar diharapkan dapat melihat heterkaiatan antara tujuan yang ingin dicapai dan faktor-faktor dalam belajar.
Sumiati dan Asra (2008: 59) menjelaskan, bahwa ada beberapa faktor dalam belajar, antara lain :

a. Motivasi untuk belajar
Motivasi belajar adalah sesuatu yang mendorong siswa untuk berprilaku yang langsung menyebabkan munculnya prilaku dalam belajar.
b. Tujuan yang hendak dicapai
Tujuan pembelajaran adalah arah atau sasaran yang hendak dituju oleh proses pembelajaran
Sebagaimana motivasi, tujuan sebagai salah satu faktor yang terdapat dalam belajar seharusnya timbul dan ada pada diri siswa.
c. Situasi yang mempengaruhi proses belajar
Faktor situasi atau keadaan yang mempengaruhi proses belajar berkaitan dengan diri siswa, keadaan belajar, proses belajar, guru, teman, serta program belajar merupakan faktor yang mempunyai pertalian erat satu dengan ang lain. Ini semua merupakan komponen situasi (keadaan) belajar yang menjadi salah satu faktor penting dalam belajar.

5. Prinsip-prinsip belajar
a. Prinsip Umum Belajar
Menurut Wingu dalam Sumiati dan Asra (2008: 40) belajar didasarkan atas prinsip-prinsip berikut:
a. Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi
b. Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman
c. Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan
b. Prinsip belajar pada aktivitas siswa
Menurut Sumiati dan Asra (2008: 41) prinsip belajar yang menekankan pada aktivitas siswa, antara lain :
a. Belajar dapat terjadi dengan proses mengalami.
b. Belajar merupakan transaksi aktif
c. Belajar secara aktif memerlukan kegiatan yang bersifat vital
d. Belajar terjadi melalui proses mengatsi hambatan(masalah)
6. hubungan antara minat baca dengan prestasi atau hasil
Membaca memang tidak hanya sekedar hubungan timbal balik individu secara total dengan informasi simbolik, namun membaca harus mampu mentransfer dan memperluas informasi sendiri. Oleh karena itu membaca biasanya merupakan aspek visual belajar dan di dalamnya terdapat pengenalan asimulasi intra integrasi, penyimpanan, mengingat, dan komunikasi. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa membaca itu merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi yang utuh, lengkap dan jelas. Membaca dikatakan suatu proses karena di dalamnya terdapat tahapan-tahapan yang dapat dilakukan secara bertahap atau bersamaan. Suatu proses menuntut agar segala sesuatu yang berbentuk umum dapat diketahui dengan satu kesatuan makna atau pesan yang ditulis dapat dipahami dengan proses membaca itu tadi.
Apabila proses membaca berjalan dengan baik maka pesan yang tersirat atau tersurat dalam bacaan akan lebih mudah ditangkap, dipahami, dan dimengerti oleh pembaca. Jika proses belajar berjalan dengan lancar, maka hasil yang akan didapat dari kegiatan membaca itu akan baik. Sehingga tujuan dari membaca dapat dicapai dengan sempurna.(Saputra, 2004: 2)
Keberhasilan dalam membaca dengan tingkat pencapaian yang tinggi akan memberikan pengaruh yang besar pada hasil belajar siswa. Hal tersebut didapat karena diantara faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah ketekunan belajar yang diantaranya dipengaruhi oleh minat membaca.

.

my love is forever for you

Kata-kata itu selalu terngiang ditelingaku, semua hal yang terjadi melintas difikiranku. Emang benar, saat memikirkan seseorang yang kita cintai, tak kan pernah habis waktu untuk itu. Hal itu juga membuat kita bisa kembali bersamangat dalam menjalani hidup.
Menikmati hari-hari yang terasa penuh dengan beraneka warna.
Cinta….sungguh anugrah yang terindah yang diberikan Sang Pecipta pada makhluknya, tanpa cinta tak akan ada kedamaian didalam dunia.

Seperti hidupku kini, kehadiran cinta mengubah segala hal dalam hidup, lebih menghargai untuk apa dan mengapa kita hidup. Kedatangannya membuatku takkan berhenti mensyukuri nikmat Tuhan dan ingin hidup seribu tahun lagi.
Cinta..kata-katanya memberikan arti yang sangat dalam bagi insan yang sedang mengalaminya, jatuh cinta seolah menjadikan dua insan berbeda bersatu dalam naungannya. Begitu besarnya arti cinta membuat orang-orang enggan untuk berpaling darinnya.

Tapi lain halnya jika seseorang sedang berduka dengan berakhirnya hubungan ikatan cinta, memikirkan setiap kenangan merupakan hal yang sangat menyakitkan buatnya. Seolah hati teriris-iris sembilu. Ingin rasanya jiwa lepas dari raga, hanya untuk sekedar melepaskan semua kenangan yang tirtinggal saat bersamanya.
Menghapus semua kenangan yang indah bukanlah hal yang mudah, apalagi kenangan itu sangat berkesan bersama orang yang kita cintai, tapi dengan memikirkannya membuat sakit didalam hati. Setiap orang yang sedang putus cinta, pasti merasakan hal yang sama. Kepergian sang kekasih menoreh luka dalam yang terkadang perlu waktu lama untuk mengobatinya.

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.